Silaturrahim

Pertanyaan
Saya seorang singleparent usia 43 tahun,
memiliki satu orang anak usia menjelang remaja.
suami telah menghadap Yang Kuasa hampir 11 tahun yang lalu, dengan usia perkawinan yang belum genap 3 tahun.
selama kesendirian ini, saya mengkonsentrasikan diri  untuk membesarkan anak dan sembari mendekatkan diri  pada Tuhan, mencari hikmah atas ujian yang saya hadapi ini.
Alhamdulillah saya bisa tegar dan bisa menjalani kesendirian selama ini..
Tapi ternyata ujian Tuhan datang lagi
Sebulan yang lalu, tiba-tiba seseorang dari masa lalu saya menelpon.
Suprise… karena kami telah hilang komunikasi selama 20 tahun
Karena waktu itu, jarak yang memisahkan sehingga kesulitan tuk berkomunikasi, karena setelah menamatkan kuliah saya pulang ke kampung halaman
Dia laki-laki terbaik yang pernah dekat dalam kehidupan saya
Tapi dulu kami sama2 remaja yang lugu sehingga tak pernah ada terucap kata sayang diantara kami.
Dia baru tau kesendirian saya setelah kami cerita tentang keluarga masing2
Setelah itu kami intens sms ataupun telpon..
Bahkan dia mengirimi suatu benda yang terukir nama kami berdua
Dari komunikasi2 kami terungkap fakta bahwa :
1.      kami masih sama-sama saling mengingat satu sama lain, meskipun waktu tlah sekian tahun berlalu, dia menelpon itupun karena tiba2 dia ingat saya dan langsung mencari info keberadaan saya
2.      Kami masih menyimpan rasa yang dulu, kami masih sama2 sayang
3.      Kami berdua masih berharap kami berjodoh suatu hari nanti
4.      Kami masih saling mencari info satu sama lain selama ini
5.      Kami ternyata pernah sama2 berdoa agar suatu hari bisa bertemu kembali, dan tuhan mengabulkannya sekarang
6.      Dia ingin berjumpa denganku, tapi aku menolak karena takut fitnah . kesendirianku rentan akan fitnah, kami berada di pulau yang berbeda
7.      Dia berkata bahwa aku adalah cinta pertama bagi dia sehingga dia sulit untuk melupakan aku meskipun dia telah berkeluarga hampir 15 tahun, sementara bagiku dia adalah laki2 yang terbaik karena itu sulit bagi saya untuk melupakan dia meskipun dulu pertemuan kami singkat dan tak pernah terucap kata sayang antara kami, kami sama2 pendiam waktu itu, dia hanya memberikan perhatian dengan pemberian2 berupa apa saja.
saya menyadari kami sekarang bermain api
saya coba untuk pending komunikasi
2 kali mencoba memutuskan komunikasi
Yang terjadi malah aku menangis tak bisa tidur
aku hanya bertahan 1 hari
Kemudian aku kembali sms
Sampai sekarang istrinya belum tau komunikasi kami
Ada kekhawatiranku bila istrinya mengetahui komunikasi kami
Apalagi kami sempat bertukar foto by phone dan ternyata fotoku dia print dan simpan untuk dia pandang bila merindukan saya
Tapi saya tidak memungkiri kalau saya bahagia bisa berkomunikasi kembali
Saya mulai rindu dengan sms2 dia, rindu dengan suaranya
Rindu dengan panggilan sayang dari dia…
Apa yang harus kulakukan sekarang..?
Bukankah Allah melarang memutuskan silaturahmi
Dan apa yang terjadi sekarang juga karena doa2ku..
apalagi dari komunikasi kami terakhir ada keinginan dia utk berpoligami
tapi hati kecil menolak krn tdk tega dengan istrinya dan kondisi pekerjaanku tdk memungkinkan utk itu
Mohon solusinya.
Hamba Allah
Jawaban:
Alhamdu lillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du:
Kami mengapresiasi atas kesabaran, ketabahan dan ketegaran Ibu sebagai single parent selama 11 tahun ini. Tentu itu sangat tidak mudah dan tidak ringan. Tapi Ibu mendapat karunia kekuatan dari Allah sehingga mampu melewatinya dengan indah.
Itu kenikmatan luar biasa yang patut disyukuri. Dan cara mensyukurinya antara lain dengan menjaga dan mempertahankan ketegaran itu serta menjadikannya sebagai modal penting dalam menghadapi ujian2 hidup berikutnya dengan beragam corak dan ragamnya.
Khususnya ujian dan godaan khusus yang sedang Ibu hadapi sekarng.
Hati2 dan waspadalah. Karena yang ini jauh lebih berat dan lebih menggelincirkan. Dan bentuk kesabaran yang dibutuhkanpun tidak sama dengan yang dibutuhkan untuk menghadapi ujian sebelumnya. Kalau yang Ibu hadapi sebelumnya “hanya” ujian saja. Tapi yang sekarang ini dobel, ujian plus godaan. Maka yang dibutuhkan bukan sekadar kesabaran biasa, melainkan kesabaran spesial!
Kami yakin Ibu sendiri adalah orang yang paling tahu dan sadar bahwa, saat ini Ibu sedang bermain api. Dan Ibu tentu tahu, apa akibat yang mungkin menimpa orang yang bermain api. Tentu saja terbakar. Dan terbakar di akherat gara2 permainan berbahaya ini, tentu saja jauh lebih pedih dan perih, daripada “terbakar” di dunia ini. Termasuk misalnya benar2 dibakar oleh istrinya setelah tahu, seperti yang kadang terjadi dalam kasus seperti ini. Ingatlah bahwa, semua rasa yang Ibu alami terkait dengan si dia adalah syahwat dan nafsu. Termasuk rasa bahagia yang Ibu temukan sejak kontak lagi dengannya, sampai saat ini, masih merupakan bahagia semu dan menipu yang melenakan.
Dan rasa, khususnya dalam bab yang satu ini, memang paling banyak dan paling sering menipu.
Singkat saja yang ingin kami nasehatkan.
Segera sadar dari keterlenaan yang telah menghinggapi.
Kembalilah kepada logika dan akal sehat.
Beristighfarlah dengan tulus agar Allah memberi kekuatan dan membimbing.
Hentikan sekarang juga kontak2an, sms2an apalagi sayang2an.
Karena itu semua maksiat dan dosa, disamping sangat bahaya.
Lho apa tidak berarti mutus silaturrahim?
Tidak. Melainkan menyelamatkan diri dari murka Allah dan bahaya lainnya.
Silaturrahim yang diperintah itu syaratnya harus tanpa dosa.
Apa berarti harus putus hubungan sama sekali dengannya?
Bukankah secara syareat tetap masih ada peluang untuk hubungan ini disahkan dalam pernikahan dengan sistem poligami seperti niatnya?
Nah disinilah kami ingin menyampaikan.
Bahwa, di depan Ibu dengan dia hanya ada dua opsi pilihan.
Pertama, jika tetap tidak jelas, dan tidak mungkin diikat dalam pernikahan yang sah, maka Ibu harus bisa meninggalkan dan menjauhi serta melupakannya. Harus.
Dan Ibu harus yakin, jika dia tetap tidak mau putus, padahal arah hubungan tidak jelas, berarti dia tidak mengingikan kebaikan bagi Ibu, melainkan hanya mau menang sendiri dan menjadikan Ibu sekadar sasaran pelampiasan nafsunya belaka.
Termasuk mungkin dia akan mengajak Ibu nikah siri, nikah sembunyi2, juga berarti dia hanya ingin merugikan Ibu! Belum lagi jika nikah sirinya itu tanpa wali Ibu yang asli, malah tidak sah yang berarti tetap zina.
Dan pilihan kedua adalah menikah poligami secara sah dan terbuka, bukan ngumpet2.
Dan untuk itu, Ibu harus “menantang”-nya bersikap gentle dengan secara terus terang membuka niat dan keinginan poligaminya kepada istrinya. Disamping juga secara bertanggung jawab datang untuk meminta Ibu kepada keluarga dan wali Ibu.
Jika dia sedia dan mampu melakukan itu, maka silakan Ibu maju, dan kami turut mendoakan.
Tapi jika dia tidak siap, maka langgalkan dan lupakan dia sekarang juga!
Itu saja dua opsi pilihan yang “baik”.
Adapun tentang tiga kemungkinan yang lainnya, maka semuanya tidak baik.
Pertama, kalian berdua melanjutkan hubungan sayang2an seperti sekarang, tanpa kejelasan status. Ya hanya menumpuk dosa. Apalagi umumnya hampir pasti kedepan akan berkembang kepada hubungan yang lebih terlarang dan lebih berbahaya lagi!
Kedua, menempuh langkah nikah siri, apa Ibu mau? Yang jelas, pihak perempuan yang selalu dirugikan disini!
Dan alternatif ketiga, adalah dia menikahi Ibu setelah menceraikan istrinya! Ibu mau andai berada di posisi sang istri!Itu saja yang bisa kami sampaikan. Semoga bisa dipahami dan bermanfaat. Kami turut mendoakan, semoga Ibu tetap dijaga Allah dan diberi pilihan terbaik. Aamiin.
Ust. Ahmad Mudzoffar Jufri, Lc, M.A

Artikel Lainnya:

  1. Wudhu’ dan Tayamum
  2. Orang Beriman Pantang Mengeluh
  3. Griya Al Qur’an
  4. Menyembuhkan Penyakit Dengan Banyak Bersodaqoh
  5. Konsultasi Syari’ah

Leave a Reply